"Sudah?"
"Sudah kok.. tapi.. jangan berenang terlalu cepat ya..?"
"Pegang tangan ku. Jangan sekali-kali kau lepaskan karena sudah pasti aku berenang lebih cepat dari mu. Ingat, danau ini tidak sebesar otak mu."
"Iya iya aku mengerti."
"Jangan ragu. Obat itu pasti bekerja. Kau siap?" ujar Ryu.
"Iya.. aku sangat siap..."
-Flashback end-
Ryu POV
"Pegang tangan ku Kana."
Gadis itu mengangguk kencang. Aku pun mengambil ancang-ancang sebelum menyelam *author :
SRASH
Aku mulai menunjukan kelihaian ku sebagai duyung. Aku membawanya ke tempat-tempat negeri duyung. Kana terlihat sangat senang.
"Ryu-kun! obatnya bekerja!"
"Sudah kubilang kan? sekarang aku akan mengajak mu ke tempat tinggal ku. Ayah dan ibu pasti senang bertemu denganmu."
"Ryu... tapi aku kan manusia.."
"Tapi keluarga ku juga belum pernah bertemu manusia seberani dirimu."
Aku langsung mengibaskan ekor ku sekencang-kencangnya. Entah kenapa, ada sesuatu di hatiku. Setiap Kana ada di dekat ku aku selalu merasa gelisah. Sekarang yang ada di otak ku hanya Kana.
"Kana."
"Ya?"
"Kenapa kau tak takut melihat wujudku?"
"Sebenarnya.. aku takut. Tapi aku mencoba untuk berani, aku bukan pengecut. Entah kenapa, aku merasa kau baik, Ryu."
Aku langsung memalingkan muka kedepan. Ya, aku malu. Tanpa aku jadi berenang lebih cepat dari biasanya. Kana mulai kewalahan. Hampir saja aku melempar tubuh kecilnya. Tiba-tiba aku teringat akan efek obat itu.
-1 jam lagi.. aku harus cepat!- batin ku.
"Kana, ini rumahku!" pamer ku bangga.
"Wow... semuanya.. persis seperti di dongeng dongeng."
Aku mengajak Kana masuk ke dalam, kami berjalan melewati koridor depan rumahku yang berujung ke ruang keluarga ku.
"Ayah! Ibu!" Aku berteriak memanggil mereka.
"Ryu..?"
"Iya, perkenalkan ini....."
"Ryu! sejak kapan ada manusia yang berani melihat dunia duyung?" bentak ayah ku.
"Ayah.. tapi Kana berbeda.."
"Semua manusia sama saja! tidak boleh sama sekali mengetahui dunia kita! Kenapa kau begitu lalai!"
"Ayah.."
"Sudahlah, sepertinya Kana orang baik-baik. Dia sepertinya senang dibawa kesini." bela Ibu.
"Ryu.. maaf.." Kana langsung menundukan kepalanya.
"Haish, Kana.. sudahlah. Oh iya sebentar lagi efek obatnya habis. Kita naik?"
"Hmm." angguk Kana "Paman, bibi, aku pamit.. maaf mengganggu kalian."
"Lain kali mampir lagi ya Kana!" ujar Ibu ku.
Kukibaskan ekorku yang panjang sekencang kencang nya. Aku takut efek obatnya habis waktu Kana masih di dalam air.
"PUAAHH!!" teriak Kana saat kepalanya muncul dari danau.
"Kau puas?" tanya ku.
"Ya!" Kana tersenyum manis, manis sekali.
DEG
Tiba-tiba saja Kana menatap ku. Seakan-akan ada yang aneh.
"Terima kasih, Ryu..."
"Eh.. em iya, kembali."
"Kau sudah mau pulang?"
"Sepertinya iya, aku takut Ayah marah.."
Kana yang sudah berada di tanah itu tiba-tiba mendekatkan bibirnya ke dahi ku. Wajahku yang tadinya dingin sedingin air danau ini menjadi panas merah karena dicium Kana.
"Terima kasih Ryu, aku senang. Sampai jumpa besok ya, aku juga harus pulang."
Kali ini Kana tidak memberikan lambaian tangan atau apapun, tapi langsung berlari dengan tangan di mulutnya.
- Kana.. -
POV end
***
Author POV
"Kana." ucap Ibu dengan lembut pada Kana.
"iya? ada apa?"
"Bisa kita bicara?"
"Boleh.."
"Begini.. Aku dan ayah mu sudah merundingkan masalah pindah, kita putus kan untuk pindah lebih cepat agar semua mudah selesai. Kurang lebih.. 2 hari lagi."
"APA?! SECEPAT ITU BU?" mata Kana terbelalak kaget.
Yang ada di kepalanya sekarang hanya Ryu, Ryu dan Ryu. Dia tidak yakin bisa meninggalkan teman barunya itu sendirian lagi. Dan bertemu dengan manusia manusia yang menganggapnya 'hantu'
"Tapi bu.. tidak bisakah aku menyelesaikan pendidikan SMA ku disini? Untuk kuliah.. akan kupikirkan lagi aku mau kuliah dimana."
"*sigh* Ibu tidak bisa menjamin, besok pagi tanya lah ayah mu. Sekarang sudah malam, ayah mu pasti capek waktu pulang nanti."
"Ibu tapi.."
"Tenang lah Kana, semua akan baik baik saja. Ibu janji."
Sang Ibu lalu mengecup kening anaknya dan keluar perlahan
-Ryu.. sesingkat itu kah... waktu kita?-
Kana menatap bulan yang berbentuk sabit diluar. Bulan itu nampak gundah, sama seperti yang Kana rasakan sekarang. Terfikirkan olehnya dua hari terakhir, hari hari spesial bersama teman barunya. Ryu. Dari pertama kali mereka bertemu sampai menjelajahi dunia duyung. Tanpa sadar, air mata Kana mulai menetes satu per satu.
Hal sulit untuk meninggalkan orang yang disayang. Tapi untuk Kana, sayang pada Ryu berbeda dengan sayang kepada teman laki-laki nya yang lain. Hati Kana selalu bergemuruh setiap memikirkan Ryu. Gemuruh aneh yang terasa sangat hebat itu membuat Kana menyadari bahwa dia sudah jatuh cinta pada Ryu. Orang yang berani membela dia di depan ayahnya sendiri.
Perlahan, Kana mulai menyelipkan tubuhnya ke dalam selimut. Memeluk gulingnya dan berharap dia tidur. Dia mau esok hari segera menjelang. Hari dimana hari itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin olehnya. Entah itu bermain bersama Ryu atau langsung menyatakan perasaannya.
POV end
***
Ryu POV
"Ayah! kenapa ayah begitu kesal saat melihat Kana?"
"Sudah ayah bilang semua manusia sama saja! pemakan ikan!"
"Ayah... Tapi aku yakin kalau.."
"Kalau apa? kalau dia bukan pemakan mahluk sebangsa kita?"
"Ayah, kumohon.. hormatilah Kana walau sedikit. Kumohon, ayah." bujuk ku.
"Kalian dari tadi siang bertengkar terus hanya karena seorang wanita. Kenapa harus seperti itu?"
"Dia tetap saja pemakan ikan." ujar ayah seakan menyangkal omongan ku.
"Sepertinya.. kau menyukai dia ya, Ryu?" tanya Ibu pada ku.
"Anu kalau itu... itu..."
"Iya 'kan? sejak kapan kau berani berbicara begitu keras di depan ayah mu hanya karena ayah mu tidak suka pada orang itu."
Aku terdiam mendengar ucapan Ibu barusan. Semuanya benar, aku benar-benar menyayangi Kana. Sebisa mungkin aku tidak membuatnya marah, walau aku tau kita tidak akan pernah bersatu, tapi perasaan ini begitu kuat. Seakan tidak ada yang boleh menghalanginya.
Satu hal yang sekarang membuat ku kepikiran. Aku teringat akan curhat nya masalah pindah. Jika semua itu terjadi, sudah tidak mungkin lagi untuk ku dan dia berhubungan. Aku tidak akan pernah bisa jadi manusia dan dia juga tidak akan pernah bisa jadi duyung. Semuanya sudah diharuskan begitu.
"Ryu?" Ibu mulai mengguncang guncang tubuh ku.
"Iya bu.. aku menyayangi dia."
"Anak ini, bagaimana bisa?! kita sama sekali tidak mendidik dia untuk memiliki hubungan dengan dunia luar kan?"
"Dia sudah besar, sekonyol apa pun itu, semuanya merupakan keputusan dia sendiri. Kita hanya bisa menjaga nya agar tidak terlalu jauh jatuh kedalam kehidupan luar."
"Baiklah.. aku sudah tidak bisa berkata kata lagi. Jalanilah hidup mu selama kau tau itu benar, Ryu. Dan jangan pernah sekalipun mempermalukan keluarga kita."
"Itu sudah pasti ayah, terima kasih. Tapi... ada satu hal yang ingin kutanyakan."
"Apa itu, 'nak?"
"Jika.. suatu saat nanti aku meminta mu untuk mengubahku menjadi manusia, bisa kah ayah menyanggupi nya?" tanya ku penasaran
"Entahlah.. ayah tidak pernah menyihir duyung menjadi manusia layaknya permintaan mu. Walau bisa, bayaran nya pasti akan sama beratnya."
-Sudah kuduga.. sebisa apa pun aku memohon menjadi manusia, pasti harus ada yang aku korban kan..- batin ku.
Aku berenang ke kamar pribadi ku dan melingkarkan badan disana. Berharap hari esok segera datang. Aku ingin menghabiskan sisa waktu ku dengan Kana. Orang yang aku sayangi. Orang yang awalnya berpura pura berani pada ku hanya karena ingin dianggap berani. Maaf kan aku Kana, tapi semuanya harus berakhir.. entah sampai dimana...
POV end
***
Akhirnya selesai~ tebak tebak berhadia deh author mau post berapa part lagi :p
bocoran nih, bakal agak bad ending (entah bad ending banget)
buat yang baca kasih comment ya~
Terima kasih, sankyuu, gomawo :3
No comments:
Post a Comment